Indonesia dirajut oleh ribuan pulau dan
beragam budaya. Perwujudan kebudayaan yang diciptakan oleh
manusia berupa perilaku dan benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku,
bahasa, organisasi sosial, religi, seni, dan khususnya permainan tradisional. Semuanya
ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Seiring dengan perkembangan tekhnologi yang
semakin canggih, kini permainan tradisional yang beragam mulai ditinggalkan, bergeser
pada permainan-permainan yang menggunakan tekhnologi modern seperti play
station, video game dan berbagai jenis lainnya. Padahal
permainan tradisional yang beragam itu perlu digali dan dikembangkan karena
mengandung nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kegigihan, keberanian dan
kegotong royongan.
Permainan
tradisional anak-anak bisa melatih konsentrasi, pengetahuan, sikap, keterampilan
dan ketangkasan yang secara murni dilakukan oleh otak dan tubuh manusia. Selain itu dapat mempertajam anak dalam
berolah rasa berbasis tradisi, yang erat kaitannya dengan kepekaan sosial,
lingkungan dan dapat menanamkan budi pekerti sesuai sosio kultur masyarakat. Permainan
tradisional yang bisa dikenalkan pada anak-anak dan remaja diantaranya gobak sodor,
petak umpet, egrang, bekelan, sunda manda, jamuran, dan betengan.
Betengan merupakan salah satu warisan
permainan tradisional masyarakat kabupaten Semarang, kota Salatiga dan
sekitarnya. Permainan tersebut sudah familiar bagi anak-anak di berbagai
daerah. Sesuai dengan namanya permainan ini bertujuan untuk mempertahankan
benteng supaya tidak diserang grup lawan.
Peserta permainan betengan terdiri dari
delapan sampai enam belas orang atau lebih. Jumlah peserta harus genap karena dibagi
menjadi dua grup. Masing-masing grup memilih markas, biasanya berupa pohon,
tiang, ataupun pilar sebagai beteng. Beteng yang disepakati harus berhadap-hadapan
serta menyediakan ruang untuk pemain yang ditawan.
Permainan betengan membutuhkan kondisi
fisik yang baik, kecepatan lari dan strategi yang bagus. Dalam permainan ini
biasanya masing-masing pemain memiliki peran dan tugas yang sudah dibagi
seperti penyerang, mata-mata dan juga penjaga benteng. Kemenangan bisa diraih
dengan menawan semua anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka ataupun
menyentuh beteng lawan. Untuk mengetahui siapa penawan dan yang tertawan
ditentukan dari waktu terakhir saat pemain menyentuh benteng mereka
masing-masing.
Setelah melakukan aktivitas tersebut anak-anak
didampingi untuk refleksi dan diskusi bersama dengan suasana yang menyenangkan.
Pertanyaan bisa dilontarkan untuk memulai refleksi seperti bagaima perasaan
mereka saat melakukan permainan, bagaimana mereka menyiapkan strategi serta
membagi peran, kendala apa yang dirasakan, siasat serta kemampuan apa yang
menurut mereka perlu dimiliki, dan sikap serta nilai-nilai anti korupsi apa
saja yang bisa mereka petik.