Laman

Kamis, 24 September 2015

Biodata


Perkenalkan si anak tengah yang penuh suka duka. Meski aku satu-satunya anak cewek, tapi menurut banyak orang adik cowokku yang paling cantik.. itu tuh sakitnya, masih ada saingan.. -_-


Contoh foto menyakitkan : Aku (Theofani Zahra), Kakak (R. Mustaghis Hilmy), Adhik (Yudhatama A.A.)

Aku dilahirkan 26 Desember 1996 dengan nama Theofani Zahra. Saat ulang tahun ke sepuluh, tepat ketika sunami di Aceh, sedih banget kan.. :’( Jujur, aku nggak pernah keluar dari kandang. Sejak SD hingga usia SMA selalu menetap di Desa Kalibening, Salatiga. Kuliah pun tak jauh-jauh amat. Didukung oleh tipe kepribadian melankolis, aku cenderung suka menikmati banyak hal sendiri. Aku hanya dekat dengan beberapa orang dan guru yang aku percaya. Hobbiku membangun berbagai macam dunia lewat cerpen dan novel. Kebetulan aku mengagumi dunia sastra, teater dan perfilman. 


 Foto ini diambil karena efek SUWUNG.

Di dunia sastra, pencapaianku sementara ini sudah menerbitkan antologi cerpen. Kami juga sempat bekerjasama dengan Plan International. Kemudian untuk kelompok film, karya pertama kami berupa Iklan Layanan Masyarakat mendapat juara dua lomba SMA se-Indonesia. Seterusnya kami produksi film pendek yang bisa ditampilkan di Gelar Karya rutin di sekolah. Untuk teater, kami sering bekerja sama dengan komunitas yang sudah ada di Salatiga. Beberapa kali mengadakan acara, terakhir acara “How Art You?” di Perpusda Salatiga. Nama kelompok teater kami adalah "Teater Gedhek"


Salah satu pementasan Teater Gedhek. Naskah hasil dari adaptasi puisi Kahlil Gibran

Kesempatan bertemu dengan sutradara keren Riri Riza di Universitas Katolik Sugijapranata.

Ups, sebenarnya aku tidak pernah menginjak sekolah formal SMP-SMA. Aku bergabung dengan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Tempat dimana kemerdekaan mutlak dapat kami genggam. Disini kami bukan sekedar membaur, namun saling membantu dan berbagi entah anak orang kaya, orang miskin, anak kota, anak desa, semuanya saling membantu. Untuk konsep lebih lanjut bisa langsung tanya Mbah Google dengan mengetik nama komunitas kami.

Karena di komuntas tidak pernah ada yang namanya nilai bahkan ujian nasional pun tidak wajib, itulah yang membuat kami berusaha jujur pada diri sendiri. Mulai dari peraturan, SPP dan pelajaran kami sendiri yang menentukan. Satu-satunya peraturan untuk kami “hak mu dibatasi oleh hak orang lain”. Satu-satunya tuntutan bagi kami “menjadi manusia bermanfaat”. Maka dari itu sampai sekarang aku tidak ingin berhenti berkarya entah jadi penulis, sineas, aktor, ataupun berkarya di bidang kesehatan demi menjadi manusia bermanfaat. Hari ini penduduk semakin bertambah, namun kontribusi untuk Negara Indonesia sendiri semakin berkurang. Mungkin salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah pendidikan. 

Terakhir, perkenalkan orang tua saya. Mereka berdua memiliki dunia masing-masing yang sangat berbeda, namun melihat keduanya bertengkar pun tidak pernah. Ibu saya sebagai Guru di sekolah formal. Sedangkan bapak saya sendiri aktivis petani dan hobbi mengkritisi pendidikan di Indonesia. Aku merasa sempurna telah lahir sebagai buah cinta dari Siti Miskiyah dan Ahmad Bahruddin.

Maaf, ada Jokowi nyempil. Btw, aku suka foto ini. Jarang banget Pa'e-Ma'e foto dengan pose seperti itu.

Gerakan Kamar "D"

Kala itu detik-detik menuju MOCA rasanya horor banget. Berita tentang OSPEK yang mengerikan sudah tercium. Karena belum ada kegiatan kuliah, yang ada di kamar cuma ngerumpi. Ups, rumpian kali ini cukup berbobot.. mencoba mengkritisi banyak hal tentang dunia baru kita.. mulai dari fasilitas di akbid, biaya, asrama dan yang terakhir OSPEK.

Lama-lama obrolan kita seperti para tokoh revolusi.. Hihihihi ^^ menyiapkan beberapa hal untuk menghentikan rencana OSPEK. Mulai dari browsing soal peraturan dari pemerintah tentang OSPEK, menulis kesan pesan yang jujur pake banget buat bu asrama, sampai sindiran tajam lewat naskah drama yang akan ditampilkan.

Sayang seribu sayang, kita tetap menjalani kegiatan konyol tersebut. Drama pun gagal tampil karena kamar selain "D" nggak punya nyali. Para senior menganut kepercayaan bahwa "dengan tampang GALAK maka mereka akan dihormati". Hah? yang benar saja? Sejak kapan sikap yang buruk menjadi syarat agar seseorang dihormati? Kehormatan hanya untuk orang-orang yang menginspirasi dengan laku kebaikannya.

Akhirnya rencana revolusi itu tak ada baunya lagi. Jika memang begitu, di dalam hati hanya tersisa prinsip untuk tidak melampiaskan dendam pada adik tingkat tahun depan. Tidak mungkin kami menghianati nurani. Tidak mungkin kami melakukan sesuatu yang telah kami anggap sebagai kebodohan. Tapi rasanya seneng banget tiba-tiba ada dukungan dari Pak Yudha saat mengisi perkuliahan. Apalagi ditambahi bumbu-bumbu pengalaman beliau melawan praktik senioritas. Setidaknya, kami semakin yakin bahwa pikiran itu bukanlah kesalahan.

Usulan kegiatan MOCA :
- Menanam.
Itu tuh halaman dan pot yang ada bisa kita isi tanaman yang lebih bermanfaat daripada bunga untuk hiasan semata. Mislnnya kita bisa menanam macam-macam tanaman obat, teh herbal atau yang lain lagi. Ini erat juga kaitannya dengan kesehatan. mungkin selanjutnya kita bisa rutin memanem sampai mengolah.
- Daur ulang kertas
Ini juga penting dalam dunia kesehatan. Sebenarnya kuno banget kalau jaman gini kita masih menghamburkan banyak kertas untuk mengumpulkan berbagai macam jenis tugas. Lihat deh isu konservasi alam! Itu sangat gencar di seluruh dunia.
- Menulis gagasan
Sudah dikabarkan sejak lama kalau kita memasuki era globalisasi, artinya saingan kita benar-benar seluruh dunia. Kelemahan pendidikan di Indonesia hanyalah meluluskan "produk masa lalu". Disebut produk masa lalu karena pendidikannya nggak pernah update gitu loh. Misal lulusan bidan tahun ini pasti sama juga dengan bidan lima tahun yang lalu. Jika semua diseragamkan akhirnya lulusan itu malah menjadi masalah baru. So, sejak awal mahasiswa harus memiliki karakter. Harus ada ide baru untuk menjadi bidan yang tidak biasa.
- Kreasi
Menurut pendapat saya pribadi, semua atribut yang digunakan saat MOCA kemarin hanya untuk MEMPERMALUKAN DIRI SENDIRI. Beginikah pendidikan akan membangun karakter? Beginikah cara "memanusiakan manusia" sebagai konsep yang diwariskan Ki Hajar Dewantara? Sejak awal telah dipermalukan. Sejak awal ide-ide yang keluar dibunuh oleh penyeragaman. Maka dari itu, saya berharap bisa menggantinya dengan kegiatan berkreasi. Ini menjadi salah satu bentuk apresiasi agar gagasan yang berwarna-warni itu dapat muncul. Hal ini dapat menjadi pembiasaan untuk menghargai perbedaan.
- Bekal pemahaman
"Sebenarnya, ilmu itu tidak serta merta ada. Ilmu itu tidak selamanya berhenti disini saja." Tapi kenapa di Indonesia pendidikan hanya mengajarkan bagaimana caranya mengkonsumsi ilmu? Seharusnya sejak dini kita senantiasi diapresisi untuk mencipta ilmu.

Sabtu, 19 September 2015

Kesan di Akademi Kebidanan AR-RUM

Waktu bergulir tanpa permisi. Kini telah sampai pada kehidupan baru yang harus kutapaki. Beranjak ke asrama menjadi hal paling berat yang pernah kurasakan. Meninggalkan zona nyaman. Meninggalkan sahabat komunitas, meninggalkan beberapa hobby, meninggalkan keasrian desa, meninggalkan banyak momen dan tentunya kesibukan kecil menanam macam-macam teh herbal. Dan sebenarnya sampai hari ini masih terasa berat. Sempat melewati masa paling udik tanpa laptop, smartphone, apalagi jaringan internet. Rasanya cuma bisa marah dalam hati, "benarkah ini dunia perkuliahan?"

Satu hal yang membuatku bertahan sampai seribu hari ke depan di Akbid Ar-Rum. Bahwa satu-satunya legalitas sebagai seorang bidan hanya bisa didapatkan lewat ini. Jadi, sementara menjadi diri orang lain dulu dan nanti balik lagi pada AKU yang sebenarnya. Lucu sih, tapi memang begitu adanya..

Terlepas dari hal-hal yang berat, tentu saja aku belajar banyak hal. Dengan menginjak dunia yang benar-benar berbeda, akhirnya aku mendapat banyak masalah, dan dari situlah berbagai macam pelajaran bisa kudapat. Kesan paling berharga bisa kenal sama teman-teman di kamar D. Mereka menjadi kekuatan besar untuk melalui proses sampai tiga tahun ke depan. Di dalam biji sudah ada pohon, dan aku harus belajar menghargai sebuah proses karena memang tujuan bukanlah satu-satunya yang akan kita dapat.

Oh iya, pesan buat Ar-Rum nih... refrensi buku di perpustakaan harus diperbanyak, begitu juga perluasaan jangkauan koneksi internet. Kenapa harus begitu? Karena kondisi kita di asrama yang serba terbatas dengan dunia luar maka pintu-pintu informasi harus lebih lebar agar tidak terkesan udik. Sementara masih cari-cari lagi nih, gimana caranya menjadikan Ar-Rum seperti rumah dan keluarga sendiri.. Soalnya bumbu senioritas yang masih melekat bikin nggak nyaman banget.. Pendidikan demokratis pun tidak sempurna diterapkan disini.. Banyak praktik pendidikan yang tidak sesuai dengan teori yang kita pelajar setiap hari.. Tapi okelah, dari hal itu aku menjadi tahu kenapa pelayanan kesehatan di Indonesia tergolong sangat buruk. Yap, semoga dari pengalaman ini kelak aku dapat memperbaikinya.. Berharap sekali tidak hanya belajar menjadi bidan namun sekaligus menempatkan diri sebagai peneliti pendidikan kesehatan. Perjuangan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat di Indonesia tidak boleh berhenti sampai kapanpun. Semangat untuk para pemuda Indonesia..!!

Kenapa Pilih AKBID AR-RUM?


Tentu saja karena sebuah mimpi yang besar. Mimpi untuk mewujudkan KESEHATAN MANDIRI di Indonesia. Di tengah derasnya arus globalisasi, bangsa Indonesia harus tetap eksis mempertahankan identitas dan jati dirinya. Semakin menjamurnya praktik penjajahan tidak kasatmata, kita harus semakin gempar menaburkan benih nasionalisme.
Awalnya pengen masuk Fakultas Kedokteran, namun ada banyak hal yang tidak memungkinkan. Kemudian muncul pilihan lanjutan mulai dari Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, Kebidanan, Tafsir Qur’an, Film atau Sastra? Lambat laun saya mengerti, bahwa yang paling mahal dari dunia seni hanyalah “ide”. Jadi tanpa harus menjelajah di fakultas seni saya tetap bisa menuangkan ide dalam skenario film, cerpen ataupun novel karena yang dibutuhkan hanyalah pengalaman dan kesunyian dimanapun. Oke deh, saya kembali lagi ke dunia kesehatan. Ternyata kebidanan menjadi pilihan yang paling tepat terkait dengan mimpi yang saya pegang. Ketika dokter terkesan hanya fokus sebagai ‘penyembuh penyakit’ saya rasa bidan jauh lebih luas dari itu. Cocok dengan pemikiran yang saya miliki, bahwa berbicara kesehatan mandiri tidak bisa hanya berhenti pada tema pengobatan atau penyembuhan penyakit saja. Namun segala elemen kehidupan benar-benar masuk pada dunia ini. Saya sendiri tidak mampu lagi memisahkan keterkaitan ribuan jenis ilmu demi mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial untuk semua.
Berbicara tentang mimpi nggak bakal ada habisnya… Hihihihi ^^ jadi, curhatan kenapa saya memilih akdemi kebidanan sudah cukup sampai disini saja.  Selanjutnya, kenapa memilih Akbid Ar-Rum? Maybe……. KEBETULAN. Karena sudah yakin banget masuk akademi kebidanan, so akbid manapun tak masalah asal terjangkau dan dekat rumah.  Pesan bapak saya, “entah sekolah, tidak sekolah, masuk pesantren ataupun kuliah satu yang perlu diingat yaitu BELAJAR”. Yap bagaimanapun dan dimanapun harus tetap belajar. Tidak menutup kemungkinan orang-orang di balik gedung pendidikan namun tak pernah belajar. Kita dapat belajar dari kehidupan, dari berbagai masalah kita sendiri, karena SEMUA ORANG ITU GURU DAN ALAM RAYA SEKOLAHKU.
Sekian bisik-bisik kecil di atas. Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Jangan lupa untuk selalu memperjuangkan mimpi luhur kalian semuaaaaa!! Sampai terwujud yaaa..!

Selasa, 15 September 2015