Perkenalkan si anak tengah yang penuh suka duka. Meski aku
satu-satunya anak cewek, tapi menurut banyak orang adik cowokku yang paling
cantik.. itu tuh sakitnya, masih ada saingan.. -_-
Contoh foto menyakitkan : Aku (Theofani Zahra), Kakak (R. Mustaghis Hilmy), Adhik (Yudhatama A.A.)
Aku dilahirkan 26 Desember 1996 dengan nama Theofani Zahra. Saat
ulang tahun ke sepuluh, tepat ketika sunami di Aceh, sedih banget kan.. :’(
Jujur, aku nggak pernah keluar dari kandang. Sejak SD hingga usia SMA selalu
menetap di Desa Kalibening, Salatiga. Kuliah pun tak jauh-jauh amat. Didukung oleh tipe
kepribadian melankolis, aku cenderung suka menikmati banyak hal sendiri. Aku hanya
dekat dengan beberapa orang dan guru yang aku percaya. Hobbiku membangun
berbagai macam dunia lewat cerpen dan novel. Kebetulan aku mengagumi dunia
sastra, teater dan perfilman.
Foto ini diambil karena efek SUWUNG.
Di dunia sastra, pencapaianku sementara ini sudah
menerbitkan antologi cerpen. Kami juga sempat bekerjasama dengan Plan
International. Kemudian untuk kelompok film, karya pertama kami berupa Iklan Layanan
Masyarakat mendapat juara dua lomba SMA se-Indonesia. Seterusnya kami produksi
film pendek yang bisa ditampilkan di Gelar Karya rutin di sekolah. Untuk teater,
kami sering bekerja sama dengan komunitas yang sudah ada di Salatiga. Beberapa kali
mengadakan acara, terakhir acara “How Art You?” di Perpusda Salatiga. Nama kelompok teater kami adalah "Teater Gedhek"
Salah satu pementasan Teater Gedhek. Naskah hasil dari adaptasi puisi Kahlil Gibran
Kesempatan bertemu dengan sutradara keren Riri Riza di Universitas Katolik Sugijapranata.
Ups, sebenarnya aku tidak pernah menginjak sekolah formal SMP-SMA. Aku bergabung dengan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Tempat dimana kemerdekaan mutlak dapat kami genggam. Disini kami bukan sekedar membaur, namun saling membantu dan berbagi entah anak orang kaya, orang miskin, anak kota, anak desa, semuanya saling membantu. Untuk konsep lebih lanjut bisa langsung tanya Mbah Google dengan mengetik nama komunitas kami.
Karena di komuntas tidak pernah ada yang namanya nilai
bahkan ujian nasional pun tidak wajib, itulah yang membuat kami berusaha jujur pada diri
sendiri. Mulai dari peraturan, SPP dan pelajaran kami sendiri yang menentukan. Satu-satunya
peraturan untuk kami “hak mu dibatasi oleh hak orang lain”. Satu-satunya tuntutan
bagi kami “menjadi manusia bermanfaat”. Maka dari itu sampai sekarang aku tidak ingin berhenti berkarya entah jadi penulis, sineas, aktor, ataupun berkarya di bidang kesehatan demi menjadi manusia bermanfaat. Hari ini penduduk semakin bertambah, namun kontribusi untuk Negara Indonesia sendiri semakin berkurang. Mungkin salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah pendidikan.
Terakhir, perkenalkan orang tua saya. Mereka berdua memiliki dunia masing-masing yang sangat berbeda, namun melihat keduanya bertengkar pun tidak pernah. Ibu saya sebagai Guru di sekolah formal. Sedangkan bapak saya sendiri aktivis petani dan hobbi mengkritisi pendidikan di Indonesia. Aku merasa sempurna telah lahir sebagai buah cinta dari Siti Miskiyah dan Ahmad Bahruddin.
Maaf, ada Jokowi nyempil. Btw, aku suka foto ini. Jarang banget Pa'e-Ma'e foto dengan pose seperti itu.


