Laman

Minggu, 12 Juli 2020

Betengan dan Nilai Anti Korupsi

Indonesia dirajut oleh ribuan pulau dan beragam budaya. Perwujudan kebudayaan yang diciptakan oleh manusia berupa perilaku dan benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, organisasi sosial, religi, seni, dan khususnya permainan tradisional. Semuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Seiring dengan perkembangan tekhnologi yang semakin canggih, kini permainan tradisional yang beragam mulai ditinggalkan, bergeser pada permainan-permainan yang menggunakan tekhnologi modern seperti play station, video game dan berbagai jenis lainnya. Padahal permainan tradisional yang beragam itu perlu digali dan dikembangkan karena mengandung nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kegigihan, keberanian dan kegotong royongan.
Permainan tradisional anak-anak bisa melatih konsentrasi, pengetahuan, sikap, keterampilan dan ketangkasan yang secara murni dilakukan oleh otak dan tubuh manusia. Selain itu dapat mempertajam anak dalam berolah rasa berbasis tradisi, yang erat kaitannya dengan kepekaan sosial, lingkungan dan dapat menanamkan budi pekerti sesuai sosio kultur masyarakat. Permainan tradisional yang bisa dikenalkan pada anak-anak dan remaja diantaranya gobak sodor, petak umpet, egrang, bekelan, sunda manda, jamuran, dan betengan.
Betengan merupakan salah satu warisan permainan tradisional masyarakat kabupaten Semarang, kota Salatiga dan sekitarnya. Permainan tersebut sudah familiar bagi anak-anak di berbagai daerah. Sesuai dengan namanya permainan ini bertujuan untuk mempertahankan benteng supaya tidak diserang grup lawan.
Peserta permainan betengan terdiri dari delapan sampai enam belas orang atau lebih. Jumlah peserta harus genap karena dibagi menjadi dua grup. Masing-masing grup memilih markas, biasanya berupa pohon, tiang, ataupun pilar sebagai beteng. Beteng yang disepakati harus berhadap-hadapan serta menyediakan ruang untuk pemain yang ditawan.
Permainan betengan membutuhkan kondisi fisik yang baik, kecepatan lari dan strategi yang bagus. Dalam permainan ini biasanya masing-masing pemain memiliki peran dan tugas yang sudah dibagi seperti penyerang, mata-mata dan juga penjaga benteng. Kemenangan bisa diraih dengan menawan semua anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka ataupun menyentuh beteng lawan. Untuk mengetahui siapa penawan dan yang tertawan ditentukan dari waktu terakhir saat pemain menyentuh benteng mereka masing-masing.
Setelah melakukan aktivitas tersebut anak-anak didampingi untuk refleksi dan diskusi bersama dengan suasana yang menyenangkan. Pertanyaan bisa dilontarkan untuk memulai refleksi seperti bagaima perasaan mereka saat melakukan permainan, bagaimana mereka menyiapkan strategi serta membagi peran, kendala apa yang dirasakan, siasat serta kemampuan apa yang menurut mereka perlu dimiliki, dan sikap serta nilai-nilai anti korupsi apa saja yang bisa mereka petik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar