Laman

Kamis, 24 September 2015

Gerakan Kamar "D"

Kala itu detik-detik menuju MOCA rasanya horor banget. Berita tentang OSPEK yang mengerikan sudah tercium. Karena belum ada kegiatan kuliah, yang ada di kamar cuma ngerumpi. Ups, rumpian kali ini cukup berbobot.. mencoba mengkritisi banyak hal tentang dunia baru kita.. mulai dari fasilitas di akbid, biaya, asrama dan yang terakhir OSPEK.

Lama-lama obrolan kita seperti para tokoh revolusi.. Hihihihi ^^ menyiapkan beberapa hal untuk menghentikan rencana OSPEK. Mulai dari browsing soal peraturan dari pemerintah tentang OSPEK, menulis kesan pesan yang jujur pake banget buat bu asrama, sampai sindiran tajam lewat naskah drama yang akan ditampilkan.

Sayang seribu sayang, kita tetap menjalani kegiatan konyol tersebut. Drama pun gagal tampil karena kamar selain "D" nggak punya nyali. Para senior menganut kepercayaan bahwa "dengan tampang GALAK maka mereka akan dihormati". Hah? yang benar saja? Sejak kapan sikap yang buruk menjadi syarat agar seseorang dihormati? Kehormatan hanya untuk orang-orang yang menginspirasi dengan laku kebaikannya.

Akhirnya rencana revolusi itu tak ada baunya lagi. Jika memang begitu, di dalam hati hanya tersisa prinsip untuk tidak melampiaskan dendam pada adik tingkat tahun depan. Tidak mungkin kami menghianati nurani. Tidak mungkin kami melakukan sesuatu yang telah kami anggap sebagai kebodohan. Tapi rasanya seneng banget tiba-tiba ada dukungan dari Pak Yudha saat mengisi perkuliahan. Apalagi ditambahi bumbu-bumbu pengalaman beliau melawan praktik senioritas. Setidaknya, kami semakin yakin bahwa pikiran itu bukanlah kesalahan.

Usulan kegiatan MOCA :
- Menanam.
Itu tuh halaman dan pot yang ada bisa kita isi tanaman yang lebih bermanfaat daripada bunga untuk hiasan semata. Mislnnya kita bisa menanam macam-macam tanaman obat, teh herbal atau yang lain lagi. Ini erat juga kaitannya dengan kesehatan. mungkin selanjutnya kita bisa rutin memanem sampai mengolah.
- Daur ulang kertas
Ini juga penting dalam dunia kesehatan. Sebenarnya kuno banget kalau jaman gini kita masih menghamburkan banyak kertas untuk mengumpulkan berbagai macam jenis tugas. Lihat deh isu konservasi alam! Itu sangat gencar di seluruh dunia.
- Menulis gagasan
Sudah dikabarkan sejak lama kalau kita memasuki era globalisasi, artinya saingan kita benar-benar seluruh dunia. Kelemahan pendidikan di Indonesia hanyalah meluluskan "produk masa lalu". Disebut produk masa lalu karena pendidikannya nggak pernah update gitu loh. Misal lulusan bidan tahun ini pasti sama juga dengan bidan lima tahun yang lalu. Jika semua diseragamkan akhirnya lulusan itu malah menjadi masalah baru. So, sejak awal mahasiswa harus memiliki karakter. Harus ada ide baru untuk menjadi bidan yang tidak biasa.
- Kreasi
Menurut pendapat saya pribadi, semua atribut yang digunakan saat MOCA kemarin hanya untuk MEMPERMALUKAN DIRI SENDIRI. Beginikah pendidikan akan membangun karakter? Beginikah cara "memanusiakan manusia" sebagai konsep yang diwariskan Ki Hajar Dewantara? Sejak awal telah dipermalukan. Sejak awal ide-ide yang keluar dibunuh oleh penyeragaman. Maka dari itu, saya berharap bisa menggantinya dengan kegiatan berkreasi. Ini menjadi salah satu bentuk apresiasi agar gagasan yang berwarna-warni itu dapat muncul. Hal ini dapat menjadi pembiasaan untuk menghargai perbedaan.
- Bekal pemahaman
"Sebenarnya, ilmu itu tidak serta merta ada. Ilmu itu tidak selamanya berhenti disini saja." Tapi kenapa di Indonesia pendidikan hanya mengajarkan bagaimana caranya mengkonsumsi ilmu? Seharusnya sejak dini kita senantiasi diapresisi untuk mencipta ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar