Waktu bergulir tanpa permisi. Kini telah sampai pada kehidupan baru yang harus kutapaki. Beranjak ke asrama menjadi hal paling berat yang pernah kurasakan. Meninggalkan zona nyaman. Meninggalkan sahabat komunitas, meninggalkan beberapa hobby, meninggalkan keasrian desa, meninggalkan banyak momen dan tentunya kesibukan kecil menanam macam-macam teh herbal. Dan sebenarnya sampai hari ini masih terasa berat. Sempat melewati masa paling udik tanpa laptop, smartphone, apalagi jaringan internet. Rasanya cuma bisa marah dalam hati, "benarkah ini dunia perkuliahan?"
Satu hal yang membuatku bertahan sampai seribu hari ke depan di Akbid Ar-Rum. Bahwa satu-satunya legalitas sebagai seorang bidan hanya bisa didapatkan lewat ini. Jadi, sementara menjadi diri orang lain dulu dan nanti balik lagi pada AKU yang sebenarnya. Lucu sih, tapi memang begitu adanya..
Terlepas dari hal-hal yang berat, tentu saja aku belajar banyak hal. Dengan menginjak dunia yang benar-benar berbeda, akhirnya aku mendapat banyak masalah, dan dari situlah berbagai macam pelajaran bisa kudapat. Kesan paling berharga bisa kenal sama teman-teman di kamar D. Mereka menjadi kekuatan besar untuk melalui proses sampai tiga tahun ke depan. Di dalam biji sudah ada pohon, dan aku harus belajar menghargai sebuah proses karena memang tujuan bukanlah satu-satunya yang akan kita dapat.
Oh iya, pesan buat Ar-Rum nih... refrensi buku di perpustakaan harus diperbanyak, begitu juga perluasaan jangkauan koneksi internet. Kenapa harus begitu? Karena kondisi kita di asrama yang serba terbatas dengan dunia luar maka pintu-pintu informasi harus lebih lebar agar tidak terkesan udik. Sementara masih cari-cari lagi nih, gimana caranya menjadikan Ar-Rum seperti rumah dan keluarga sendiri.. Soalnya bumbu senioritas yang masih melekat bikin nggak nyaman banget.. Pendidikan demokratis pun tidak sempurna diterapkan disini.. Banyak praktik pendidikan yang tidak sesuai dengan teori yang kita pelajar setiap hari.. Tapi okelah, dari hal itu aku menjadi tahu kenapa pelayanan kesehatan di Indonesia tergolong sangat buruk. Yap, semoga dari pengalaman ini kelak aku dapat memperbaikinya.. Berharap sekali tidak hanya belajar menjadi bidan namun sekaligus menempatkan diri sebagai peneliti pendidikan kesehatan. Perjuangan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat di Indonesia tidak boleh berhenti sampai kapanpun. Semangat untuk para pemuda Indonesia..!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar